Tiada lagi keraguan untuk menyebut propinsi yang terletak di ujung pulau Jawa ini sebagai propinsi aneka industri. Keanekaannya terpaut akan banyaknya jenis-jenis produk yang dihasilkan oleh kalangan entrepreneur dari sejumlah kawasan industri yang tersebar di sejumlah 37 kabupaten dan kota di wilayah ini, baik modal asal PMA maupun PMDN. Keunggulan wilayah Jawa Timur terekam dari permohonan investasi PMA hingga mencapai 938 proyek senilai 33,5 miliar dollar pada pertengahan tahun 2004, sedangkan untuk permohonan PMDN yang juga di setujui pada tahun yang sama sebanyak 380 proyek dengan nilai investasi sebesar 14,5 triliun rupiah.
Dari permohonan-permohonan investasi di wilayah ini, yang paling besar nilai investasinya adalah industri kimia, menyusul industri logam dasar dan industri tekstil serta industri perumahan.
Kegiatan industri sebagai indikator perekonomian wilayah di Jawa Timur telah dirasakan sejak zaman Daendles sebagai Gubernur hindia Belanda membangun pabrik baja Constructie Winkel yang kini berlokasi di jalan KH Mansyur Surabaya pada tahun 1808. Industri yang melayani kebutuhan perbengkelan mesin pabrik gula tersebut sempat mengembangkan industri-industri pendukung lainnya seperti NV Nederland Indische Industrie, sebuah perusahaan cikal bakalnya PT Boma Bisma Indra, kemudian De Volharding, sebuah perusahaan perbengkelan kapal yang kini menjadi PT PAL Indonesia.
Pada tahun 1850, melihat perkembangan penambahan jumlah industri yang terus berkembang, pemerintah belanda mulai membangun sebuah kawasan industri terpadu, penghuninya antara lain pabrik penggilingan tebu, pabrik mesin, dan pabrik penggergajian kayu, yang pada akhirnya terus merangsang industri-industri pendukung lainnya sesuai kebutuhan permintaan pada saat itu. Namun perkembangan yang sempat terhenti sejak meletusnya perang dunia II, perkembangan industri mulai bangkit kembali yang di perlihatkan oleh beberapa aktivitas industri baru di wilayah Ngagel. Pendirian pabrik-pabrik baru tersebut telah mampu memperlihatkan perkembangan propinsi Jawa Timur sebagai wilayah yang maju dan menjadi urat nadi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Hingga masa kemerdekaan R.I., di Surabaya sebagai kota terbesar di propinsi ini mampu menunjukkan eksistensinya sebagai kota industri dengan lahirnya beberapa kawasan industri komersil yang tertata secara baik, seperti daerah Rungkut, Margomulyo, Tandes, Kalianak. Belum lagi di Sidoarjo, pertumbuhan industri di wilayah ini dapat dikatakan yang paling pesat dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Jawa Timur.
Kini, Jawa Timur bukan saja mampu melahirkan berbagai rangkaian beberapa aktivitas proses produksi dari sebuah industri, wilayah ini bahkan mampu meningkatkan segala sarana dan prasarana lainnya untuk kepentingan masyarakat luas dan kenyamanan kehidupan dengan membangun kota indah. Sektor pariwisata dan jasa lainnya pun mampu memberikan eksistensinya di tengah riuh putaran roda ekonomi yang semakin memberikan harapan pada setiap orang.
Kini malam tidak lagi menunjukkan kelengangan dan ketakutan. Setiap suara dan cahaya yang keluar di setiap sudut kota semakin memberikan tanda kehidupan. Gairahnya mampu membangunkan lebih dini setiap warga Jawa Timur untuk menggapai semua harapan. Dari dulu hingga kini, Jawa Timur telah menjadi parameter pertumbuhan ekonomi nasional.