Mar
2
Sumber : Harian Analisa
PT PLN (Persero) memperkirakan pengenaan tarif baru untuk pelanggan kaya di atas 6.600VA bisa memberikan tambahan pendapatan bagi PLN sebesar Rp 6,25 Triliun per tahun atau Rp 521 miliar per bulan.
Tambahan pendapatan itu bisa diraup PLN jika para pelanggan-pelanggan kaya PLN tersebut tidak melakukan penghematan sehingga penggunaan diatas jatah 50% kena tarif non subsidi Rp 1380 per kwh.
Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero) Benny Marbun menjelaskan batas hemat yang dihitung oleh PLN mengacu pada perhitungan rata-rata pemakaian listrik nasional berdasarkan kelompok pelanggan.
Ia mencontohkan untuk para pelanggan diatas 6600 VA, rata-rata menkonsumsi listrik per bulannya mencapai 983 kwh. Maka dengan adanya kebijakan penghematan listrik 50% maka batas hematnya 492 kwh perbulan. Artinya pemakaian yang berada diatas 492 kwh akan dikenakan tarif non subsidi dan dibawah 492 kwh dikenakan tarif subsidi.
Sementara untuk pelanggan 7700 VA keatas rata-rata penggunaan nasional mencapai 893 kwh dengan batas hemat 447 kwh, untuk pelanggan 10600 VA keatas rata-rata pemakaian nasionalnya mencapai 1.230 kwh dengan batas hemat maksimal 615 kwh dan lain-lain.
"Batas kwh-nya beda-beda kan sulit, maka dikenalkan lah istilah jam nyala. Jam nyala adalah kwh dibagi daya tersambung," katanya dalam konferensi pers di kantor PLN, Jakarta, Senin (01/03).
Mengenai jam nyala untuk pelanggan 6600VA pemakaian rata-rata nasionalnya 983 kwh dibagi 6600 VA maka mencapai 149 jam atau batas hematnya 75 jam. Sedangkan pelanggan 7700 VA rata-rata pemakaian nasionalnya 1.230 kwh dibagi 7700 VA maka jam nyalanya 116 jam rata-rata dengan kata lain batas hemat 50% mencapai 58 jam. "Bagi pelanggan bisa melakukan kontrol penghematan penggunaan listriknya dilihat dari meteran di rumahnya," jelasnya.
Benny menjelaskan berdasarkan data PLN jumlah pelanggan diatas 6600 VA yang terkena program ini hanya mencapai 370.722 pelanggan, atau kurang lebih 1% dari total 39 juta pelanggan PLN di seluruh Tanah Air. Dari jumlah itu sebanyak 117.371 pelanggan rumah tangga, 209.716 pelanggan bisnis dan 43.636 pelanggan publik. (dtc)
PT PLN (Persero) memperkirakan pengenaan tarif baru untuk pelanggan kaya di atas 6.600VA bisa memberikan tambahan pendapatan bagi PLN sebesar Rp 6,25 Triliun per tahun atau Rp 521 miliar per bulan.
Tambahan pendapatan itu bisa diraup PLN jika para pelanggan-pelanggan kaya PLN tersebut tidak melakukan penghematan sehingga penggunaan diatas jatah 50% kena tarif non subsidi Rp 1380 per kwh.
Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero) Benny Marbun menjelaskan batas hemat yang dihitung oleh PLN mengacu pada perhitungan rata-rata pemakaian listrik nasional berdasarkan kelompok pelanggan.
Ia mencontohkan untuk para pelanggan diatas 6600 VA, rata-rata menkonsumsi listrik per bulannya mencapai 983 kwh. Maka dengan adanya kebijakan penghematan listrik 50% maka batas hematnya 492 kwh perbulan. Artinya pemakaian yang berada diatas 492 kwh akan dikenakan tarif non subsidi dan dibawah 492 kwh dikenakan tarif subsidi.
Sementara untuk pelanggan 7700 VA keatas rata-rata penggunaan nasional mencapai 893 kwh dengan batas hemat 447 kwh, untuk pelanggan 10600 VA keatas rata-rata pemakaian nasionalnya mencapai 1.230 kwh dengan batas hemat maksimal 615 kwh dan lain-lain.
"Batas kwh-nya beda-beda kan sulit, maka dikenalkan lah istilah jam nyala. Jam nyala adalah kwh dibagi daya tersambung," katanya dalam konferensi pers di kantor PLN, Jakarta, Senin (01/03).
Mengenai jam nyala untuk pelanggan 6600VA pemakaian rata-rata nasionalnya 983 kwh dibagi 6600 VA maka mencapai 149 jam atau batas hematnya 75 jam. Sedangkan pelanggan 7700 VA rata-rata pemakaian nasionalnya 1.230 kwh dibagi 7700 VA maka jam nyalanya 116 jam rata-rata dengan kata lain batas hemat 50% mencapai 58 jam. "Bagi pelanggan bisa melakukan kontrol penghematan penggunaan listriknya dilihat dari meteran di rumahnya," jelasnya.
Benny menjelaskan berdasarkan data PLN jumlah pelanggan diatas 6600 VA yang terkena program ini hanya mencapai 370.722 pelanggan, atau kurang lebih 1% dari total 39 juta pelanggan PLN di seluruh Tanah Air. Dari jumlah itu sebanyak 117.371 pelanggan rumah tangga, 209.716 pelanggan bisnis dan 43.636 pelanggan publik. (dtc)
9 komentar untuk "PLN Bisa Raup Rp6,25 Triliun dari Pelanggan Kaya Boros Listrik"
tinggalkankomentar anda
top 10berita terbaru
- Jatuh Tempo Pembayaran Rekening Listrik September 2010 | Rab, 08 Sep 10[14:15]
- Investasi PLN Hingga 2019 Capai US$97,1 M | Rab, 08 Sep 10[08:31]
- Lebaran, Dahlan Iskan Kunjungi GITET | Sel, 07 Sep 10[08:29]
- PLN Bangun Kabel Atas Laut Berbiaya US$ 240 Juta | Sel, 07 Sep 10[08:27]
- Tunggakan Listrik di Pamekasan Tertinggi di Indonesia | Sel, 07 Sep 10[08:27]
- PLN Tambah Pembangkit Berdaya 55.484 MW Hingga 2019 | Sen, 06 Sep 10[08:37]
- PENGUMUMAN PANGGILAN DIKLAT PRAJABATAN (Angkatan 23) REKRUTMEN DIRECT SHOPPING BRAWIJAYA PT PLN (PERSERO) | Kam, 02 Sep 10[11:31]
- 'PLN agar lebih terbuka ke produsen batu bara' | Min, 29 Agu 10[09:22]
- Trafo Sering Meledak, Proses Pengadaan Barang PLN Mestinya Diperlonggar | Min, 29 Agu 10[09:19]
- PLN Kejar Target Operasikan 995 Megawatt pada Akhir 2010 | Kam, 26 Agu 10[11:04]




semoga dengan penghematan 6.25 T yang di peroleh bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan energi listrik di negara kita.
KALAU YANG BUNCIT MASIH HAUS SUBSIDI, TRUS GIMANA YANG MISKIN?
HAYOOO R..DPR...APA KOMENTAR LU,JANGAN CUMAN RIBUT MELULU...
naekn tyus biar tmbah untung PLN untuk kemajuan bangsa ....
ayo Pak Dahlan......tunjukkan ide2 kreatifmu.....kami mendukungmu